Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa)
Home » Akuntansi » Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa)

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa)

Penyesuaian-penyesuaian yang dibuat oleh perusahaan jasa setiap akhir periode dilakukan terhadap elemen-elemen sebagai berikut:

1. Piutang Pendapatan

Yang dimaksud dengan piutang pendapatan adalah pendapatan yang sudah diperoleh tetapi masih belum diterima atau belum dicatat dalam rekening-rekening.

Oleh karena itu setiap akhir periode harus dibuat penyesuaian untuk mencatat pendapatan itu.

Contoh: PT. MAJU memiliki bunga investasi obligasi yang diterima tiap tanggal 1 Maret dan 1 September.

Setiap tanggal pembayaran bunga diterima sejumlah Rp 240.000,00. Pada tanggal 31 Desember 2025 bunga yang sudah merupakan pendapatan dihitung sebagai berikut:

1 September sampai dengan 31 Desember = 4 bulan.

Bunga berjalan: 4/6 * Rp 240.000 = Rp 160.000,00.

Jurnal penyesuaian yang dibuat pada tanggal 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa)

2. Utang Biaya (Biaya yang Masih Harus Dibayar)

Utang biaya adalah biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dibayar dan belum dicatat dalam rekening-rekening.

Oleh karena itu setiap akhir periode harus dibuat penyesuaian agar biaya-biaya seperti itu dapat dibebankan dalam periode yang bersangkutan.

Contoh: Pada tanggal 31 Desember 2025 masih harus dibayar gaji pegawai sebesar Rp 1.000.000,00.

Jurnal penyesuaian yang harus dibuat pada tanggal 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 1

3. Pendapatan Diterima Di Muka

Yang dimaksud dengan pendapatan diterima di muka adalah penerimaan dari pendapatan tetapi bukan merupakan pendapatan untuk periode tersebut, atau dengan kata lain merupakan pendapatan periode yang akan datang yang diterima dalam periode sekarang.

Oleh karena itu penerimaan ini tidak dapat diakui sebagai pendapatan periode sekarang.

Contoh: Pada tanggal 1 Mei 2025 perusahaan menyewakan gudang dengan ongkos sewa 1 tahun adalah Rp 3.600.000,00.

Terdapat dua pendekatan dalam mencatat pendapatan diterima di muka, yaitu pendekatan neraca dan pendekatan rugi laba.

(1) Pendekatan Neraca, bila perusahaan menggunakan pendekatan neraca maka perusahaan akan mencatat uang yang diterima sebagai pendapatan diterima di muka (utang) dan akan diakui sebagai pendapatan bila perusahaan telah melakukan pekerjaan yang diminta oleh pelanggan.

Pada tanggal 1 Mei 2025 jurnal yang dibuat oleh perusahaan karena sudah menerima uang sebagai pembayaran di muka adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 2

Pada tanggal 31 Desember 2025 perusahaan akan mencatat ayat jurnal penyesuaian sebesar Rp 2.400.000,00 (8/12 * Rp 3.600.000, sudah boleh diakui sebagai pendapatan) sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 3

(2)Pendekatan Rugi Laba, bila perusahaan menggunakan pendekatan rugi laba maka perusahaan akan langsung mencatat sebagai pendapatan.

Namun kembali kepada penjelasan sebelumnya, perusahaan hanya boleh mengakui pendapatan bila perusahaan telah melakukan pekerjaannya atau pelanggan telah mendapatkan manfaat dari perusahaan.

Dengan demikian rekening pendapatan harus dikurangi dan diganti menjadi pendapatan diterima di muka.

Pada tanggal 1 Mei 2025 jurnal yang dibuat oleh perusahaan karena sudah menerima uang sebagai pembayaran di muka adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 4

Pada tanggal 31 Desember 2025 perusahaan hanya boleh mengakui pendapatan sebesar Rp 2.400.000,00.

Itulah mengapa pendapatan sewa harus disesuaikan atau dikurangi Rp 1.200.000,00, dan dibuat rekening baru bernama pendapatan sewa diterima di muka sebesar Rp 1.200.000,00.

Maka ayat jurnal penyesuaian yang harus dibuat adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 5

Pada dasarnya penggunaan metode manapun akan menghasilkan saldo yang sama pada akhir periode (pendapatan diterima di muka sebesar Rp 1.200.000,00 dan pendapatan sewa sebesar Rp 2.400.000,00).

Perbedaan antara keduanya hanya terletak pada starting point pencatatan dan pada ayat jurnal penyesuaian.

4. Biaya Dibayar di Muka

Yang dimaksud biaya dibayar di muka adalah biaya-biaya yang sudah dibayar tetapi belum dibebankan sebagai biaya pada periode itu.

Biaya dibayar di muka ini sering timbul apabila perusahaan membayar biaya-biaya untuk beberapa periode sekaligus, sehingga dari jumlah pengeluaran tadi sebagian akan menjadi beban periode itu dan sebagian lagi akan dibebankan pada periode mendatang.

Contoh: Pada tanggal 1 April 2025 perusahaan membayar premi asuransi untuk 1 tahun sebesar Rp 12.000.000,00.

Terdapat dua pendekatan dalam mencatat biaya dibayar di muka, yaitu pendekatan neraca dan pendekatan laba rugi.

(1)Pendekatan Neraca, bila perusahaan menggunakan pendekatan neraca maka pembayaran premi untuk beberapa periode ke depan akan dicatat sebagai beban dibayar di muka.

Pada akhir periode, perusahaan melakukan penyesuaian atau pengakuan beban sebesar manfaat yang telah diperoleh perusahaan.

Pada tanggal 1 April 2025 jurnal yang dibuat perusahaan adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 6

Pada tanggal 31 Desember 2025, total biaya yang harus dijadikan beban adalah sebesar Rp 9.000.000,00 (9 * Rp 1.000.000).

Maka ayat jurnal penyesuaian yang dibuat perusahaan adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 7

(2) Pendekatan Rugi Laba, bila perusahaan menggunakan pendekatan laba rugi maka pembayaran beban untuk beberapa periode ke depan akan langsung dicatat sebagai beban, bukan beban dibayar di muka.

Pada akhir periode, perusahaan melakukan penyesuaian terhadap beban yang belum jatuh tempo atau belum dirasakan manfaatnya oleh perusahaan.

Pada tanggal 1 April 2025 jurnal yang dibuat perusahaan adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 8

Pada tanggal 31 Desember 2025, perusahaan hanya boleh mengakui beban asuransi sebesar Rp 9.000.000,00 .

Itulah mengapa beban asuransi harus dikurangi sebesar Rp 3.000.000,00.

Maka ayat jurnal penyesuaian yang dibuat perusahaan adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 9

Pada dasarnya penggunaan metode manapun akan menghasilkan saldo yang sama pada akhir periode (asuransi dibayar di muka sebesar Rp 3.000.000,00 dan beban asuransi sebesar Rp 9.000.000,00).

Perbedaan antara keduanya hanya terletak pada starting point pencatatan dan pada ayat jurnal penyesuaian.

5. Kerugian Piutang

Piutang merupakan kewajiban pihak luar perusahaan kepada perusahaan.

Piutang dagang timbul dari penjualan kredit barang dan jasa.

Pada umumnya tidak semua piutang akan dapat ditagih, sehingga kerugian yang timbul akan dicatat sebagai kerugian piutang.

Sesuai dengan prinsip mengenai penghasilan di mana dinyatakan bahwa semua biaya yang dapat dihubungkan dengan pendapatan harus dibebankan dalam periode di mana pendapatan tadi diakui, maka setiap akhir periode dibuat taksiran jumlah piutang yang kira-kira tidak akan dilunasi.

Contoh: Tanggal 31 Desember 2025 PT MAJU memiliki piutang sebesar Rp 7.000.000,00.

Diperkirakan dari jumlah tersebut piutang yang tidak dapat ditagih adalah sebesar Rp 200.000,00.

Terdapat dua metode dalam taksiran kerugian piutang yaitu (1) metode langsung, dan (2) metode tidak langsung.

(1) Metode Langsung, berikut ini adalah ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat taksiran kerugian piutang menggunakan metode langsung:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 10

(2) Metode Tidak Langsung, metode tidak langsung tidak mengurangkan langsung piutang, namun membuat rekening tandingan (contra account) dari piutang yang bernama Cadangan kerugian piutang.

Berikut adalah cara penjurnalan untuk mencatat taksiran kerugian piutang menggunakan metode tidak langsung:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 11

6. Penyusutan (Depresiasi)

Yang dimaksud dengan biaya depresiasi adalah alokasi harga perolehan aktiva tetap berwujud yang dibebankan pada suatu periode tertentu.

Pembebanan biaya depresiasi ini biasanya dilakukan pada akhir periode.

Biaya depresiasi yang dibebankan dihitung dengan cara taksiran, karena jumlahnya tergantung pada tiga faktor yaitu harga perolehan, taksiran umur ekonomis, dan taksiran nilai residu.

Pada akhir periode aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan harus disusutkan karena nilai aktiva tetap yang sesungguhnya pada tahun berjalan dibandingkan dengan nilai aktiva tetap pada tahun pembelian tidaklah sama.

Perbedaan ini muncul karena kemampuan semua aktiva tetap (kecuali tanah) dalam menghasilkan pendapatan dan jasa akan semakin menurun dari tahun ke tahun.

Penurunan ini terjadi baik secara fisik maupun fungsi.

Itulah mengapa nilai aktiva tetap pada neraca harus disesuaikan dengan nilai sesungguhnya, ini dilakukan dengan membuat ayat jurnal penyesuaian.

Besar nilai depresiasi setiap tahunnya dapat ditentukan menggunakan sejumlah metode, antara lain, metode garis lurus, metode tarif tetap atas nilai buku, dan metode jumlah angka tahun.

Pada artikel ini hanya akan dibahas satu metode yaitu metode garis lurus karena metode ini paling sederhana dan paling banyak digunakan.

Sebelum menentukan besar nilai depresiasinya setiap tahunnya, perusahaan harus melakukan estimasi nilai residu dan masa manfaat dari aktiva tetap tersebut.

Nilai residu adalah perkiraan nilai yang masih tersisa bila masa manfaat aktiva tersebut telah habis.

Sementara itu masa manfaat adalah taksiran jangka waktu aktiva tersebut dapat memberikan manfaat bagi perusahaan.

Nilai sisa dan masa manfaat ditentukan oleh manajemen.

Jadi mungkin saja perusahaan memiliki perbedaan dalam mengestimasi nilai sisa dan masa manfaat untuk aktiva yang sama.

Nilai depresiasi setiap tahunnya dihitung dengan cara:

harga perolehan dikurangi dengan nilai sisa kemudian dibagi dengan masa manfaat.

Contoh: PT. MAJU memiliki gedung yang harga perolehannya (HP) sebesar Rp 10.000.000,00 ditaksir umur ekonomisnya (UE) 20 tahun dan nilai residu sebesar Rp 500.000,00.

Maka beban depresiasi yang akan dibebankan setiap tahun adalah:

Pengakuan beban depresiasi dapat dicatat dengan menggunakan dua metode:

(a) metode langsung, dan (b) metode tidak langsung.

(1) Bila menggunakan metode langsung maka pembuatan ayat jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 12

(2) Bila menggunakan metode tidak langsung maka pembuatan ayat jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 13

7. Biaya Pemakaian Perlengkapan

Perlengkapan adalah bahan-bahan yang dibeli dengan maksud untuk digunakan dalam operasi perusahaan (tidak untuk dijual kembali).

Contoh: Dari jumlah perlengkapan kantor yang dimiliki perusahaan sebesar Rp 4.000.000,00, sebesar Rp 1.250.000,00 merupakan perlengkapan kantor yang belum dipakai.

Pada tanggal 31 Desember ayat jurnal penyesuaian yang harus dibuat adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 14

Demikian pembahasan tentang Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa).

Meskipun agak rumit tetapi apabila kita belajar dengan sungguh-sungguh, pasti mudah untuk dipahami. Semoga berhasil, semangaaattt!!!